Senin, 11 April 2016

INFLASI



“INFLASI”


Pengertian
Pengertian inflasi adalah suatu keadaan perekonomian dimana harga-harga secara umum mengalami kenaikan dalam waktu yang panjang. Kenaikan harga yang bersifat sementara seperti kenaikan harga pada masa lebaran tidak dianggap sebagai inflasi, karena disaat setelah masa lebaran, harga-harga dapat turun kembali. Inflasi secara umum dapat terjadi karena jumlah uang beredar lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Inflasi merupakan suatu gejala ekonomi yang tidak pernah dapat dihilangkan dengan tuntas. Usaha-usaha yang dilakukan biasanya hanya sampai sebatas mengurangi dan mengendalikannya.
Berbagai Istilah Ekonomi
1.      Inflasi, adalah suatu keadaan yang mengindikasikan semakin melemahnya daya beli yang diikuti dengan semakin merosotnya nilai rill mata uang suatu Negara, atau suatu gejala dimana tingkat harga umum cenderung mengalami kenaikan secara terus-menerus.
2.      Stagnasi, inflasi yang berkepanjangan akan melumpuhkan perekonomian. Keadaan ekonomi menjadi semakin lesu, karena industry dan produksi berada dalam keadaan stagnan. Jadi stagnasi adalah keadaan dimana pertumbuhan ekonomi berlangsung lambat dan bahkan berhenti
3.      Stagflasi, keadaan ini terjadi ketika permintaan agregat naik bukan karena naiknya daya beli tetapi mungkin karena ekspektasi inflasi semakin tinggi, sedangkan penawaran agregat berkurang karena biaya produksi tinggi.
4.      Deflasi, adalah harga barang dan jasa terus menurun dengan tajam.
5.      Resesi, adalah penurunan kegiatan ekonomi atau penurunan produk nasional bruto (PNB) suatu Negara secara terus menerus atau berturut-turut.
 
Penyebab Inflasi
Inflasi disebabkan oleh kenaikan permintaan dan kenaikan biaya produksi. Penjelasan lebih lanjut untuk kedua penyebab inflasi tersebut adalah sebagai berikut :
a)             Inflasi karena kenaikan permintaan (Demand Pull Inflation)
Inflasi seperti ini terjadi karena adanya kenaikan permintaan untuk beberapa jenis barang. Dalam hal ini, permintaan masyarakat meningkatkan secara agregat (aggregate demand). Peningkatan permintaan ini dapat terjadi karena peningkatan belanja pada pemerintah, peningkatan permintaan akan barang untuk diekspor, dan peningkatan permintaan barang bagi kebutuhan swasta. Kenaikan permintaan masyarakat (aggregate demand) ini mengakibatkan harga-harga naik karena penawaran tetap.
b)            Inflasi karena biaya produksi (Cost Pull Inflation)
Inflasi seperti ini terjadi karena adanya kenaikan biaya produksi. Kenaikan pada biaya produksi terjadi akibat karena kenaikan harga-harga bahan baku, misalnya karena keberhasilan serikat buruh dalam menaikkan upah atau karena kenaikan harga bahan bakar minyak. Kenaikan biaya produksi mengakibatkan harga naik dan terjadilah inflasi. 
c)             Inflasi karena jumlah uang yang beredar bertambah
Teori ini diajukan oleh kaum klasik yang mengatakan bahwa ada hubungan antara jumlah uang yang beredar dan harga-harga. Bila jumlah barang itu tetap, sedangkan uang beredar bertambah dua kali lipat maka harga akan naik dua kali lipat. Penambahan jumlah uang yang beredar dapat terjadi misalnya kalau pemerintah memakai sistem anggaran defisit. Kekurangan anggaran ditutup dengan melakukan pencetakan uang baru yang mengakibatkan harga-harga naik.
Jenis-Jenis Inflasi
Jenis-jenis inflasi atau macam-macam inflasi dapat dibedakan berdasarkan tingkat keparahan, sumber dan penyebabnya.
1)             Jenis-Jenis Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahannya
Berdasarkan tingkat keparahannya, inflasi dapat dibedakan atas ringan, sedang, berat, dan sangat berat. 
  • Inflasi ringan : Inflasi ringan adalah inflasi yang masih belum begitu mengganggu keadaan ekonomi. Inflasi ini dapat dengan mudah dikendalikan. Harga-harga yang naik secara umum, namun belum menimbulkan krisis di bidang ekonomi. Inflasi ringan berada di bawah 10% per tahun. 
  • Inflasi sedang : Inflasi ini belum membahayakan kegiatan ekonomi. Tetapi inflasi ini bisa menurunkan kesejahteraan orang-orang berpenghasilan tetap. Inflasi sedang berkisar antara 10%-30% per tahun. 
  • Inflasi berat : Inflasi ini sudah mengacaukan kondisi perekonomian. Pada inflasi berat ini, biasanya orang cenderung menyimpan barang. Dan pada umumnya orang mengurungkan niatnya untuk menabung, karena bunga pada tabungan lebih rendah daripada laju inflasi. Inflasi berat berkisar antara 30%-100% per tahun. 
  • Inflasi sangat berat (Hyperinflation) : Inflasi jenis ini sudah mengacaukan kondisi perekonomian dan susah dikendalikan walaupun dengan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Inflasi yang sangat berat berada pada 100% keatas setiap tahun. 
2)             Jenis-Jenis Inflasi Berdasarkan Sumbernya 
Berdasarkan sumbernya, inflasi dibedakan atas inflasi yang bersumber dari luar negeri dan inflasi yang bersumber dari dalam negeri. 
  • Inflasi yang bersumber dari luar negeri : Inflasi ini terjadi karena ada kenaikan harga di luar negeri. Pada perdagangan bebas, banyak negara yang saling berhubungan dalam perdagangan. Bila suatu negara mengimpor barang pada negara yang mengalami inflasi, maka otomatis kenaikan harga tersebut (inflasi) akan memengaruhi harga-harga dalam negerinya sehingga menimbulkan inflasi. Contoh, Indonesia banyak mengimpor barang-barang modal dari negara lain. Jika di negara itu harga barang-barang modal naik, maka kenaikannya itu akan turut berpengaruh di Indonesia sehingga menimbulkan inflasi. 
  • Inflasi yang bersumber dari dalam negeri : Inflasi yang bersumber dari dalam negeri dapat terjadi karena pencetakan uang baru oleh pemerintah atau penerapan anggaran defisit. Inflasi yang bersumber dari dalam negeri juga dapat terjadi karena kegagalan panen. Kegagalan panen menyebabkan penawaran pada suatu jenis barang berkurang, sedangkan permintaan tetap, sehingga harga-harga akan naik. 
3)        Jenis-Jenis Inflasi Berdasarkan Penyebabnya
Berdasarkan penyebabnya, inflasi dapat dibedakan atas inflasi karena kenaikan permintaan dan inflasi karena biaya produksi 
  • Inflasi karena kenaikan permintaan : Kenaikan permintaan terkadang tidak dapat dipenuhi produsen. Oleh karena itu, harga-harga cenderung naik. Hal ini sesuai dengan hukum ekonomi "jika permintaan naik sedangkan penawaran tetap, maka harga cenderung naik. 
  • Inflasi karena kenaikan biaya produksi : Kenaikan biaya produksi mengakibatkan harga penawaran barang naik, sehingga dapat menimbulkan inflasi. 
PENGUKURAN TINGKAT INFLASI
1.      Indeks Harga Konsumen adalah angka indeks yang menunjukkan tingkat harga barang dan jasa yang harus dibeli konsumen satu periode.

2.      Indeks harga perdagangan besar (IHPB) sering disebut indeks harga konsumen karena melihat tingkat inflasi dari sisi produsen pada berbagai tingkat produksi.

3.      Indeks harga implicit (GDP Deflator)



Dampak Inflasi dan Cara Mengendalikan Inflasi
Dampak Inflasi
Inflasi tidak selalu berdampak buruk bagi perekonomian. Inflasi yang terkendali justru dapat meningkatkan kegiatan perekonomian. Berikut ini adalah akibat-akibat yang ditimbulkan inflasi terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. 
  • Dampak Inflasi terhadap Pendapatan : Inflasi dapat mengubah pendapatan masyarakat. Perubahan dapat bersifat menguntungkan atau merugikan. Pada beberapa kondisi (kondisi inflasi lunak), inflasi dapat mendorong perkembangan ekonomi. Inflasi dapat mendorong para pengusaha memperluas produksinya. Dengan demikian, akan tumbuh kesempatan kerja baru sekaligus bertambahnya pendapatan seseorang. Namun, bagi masyarakat yang berpenghasilan tetap inflasi akan menyebabkan mereka rugi karena penghasilan yang tetap itu jika ditukarkan dengan barang dan jasa akan semakin sedikit. 
  • Dampak Inflasi Terhadap Ekspor : Pada keadaan inflasi, daya saing untuk barang ekspor berkurang. Berkurangnya daya saing terjadi karena harga barang ekspor semakin mahal. Inflasi dapat menyulitkan para eksportir dan negara. Negara mengalami kerugian karena daya saing barang ekspor berkurang, yang mengakibatkan jumlah penjualan berkurang. Devisa yang diperoleh juga semakin kecil. 
  • Dampak Inflasi Terhadap Minat Orang untuk Menabung : Pada masa inflasi, pendapatan rill para penabung berkurang karena jumlah bunga yang diterima pada kenyataannya berkurang karena laju inflasi. Misalnya, bulan januria tahun 2006 seseorang menyetor uangnya ke bank dalam bentuk deposito satu tahun. Deposito tersebut menghasilkan bunga sebesar, misalnya, 15% per tahun. Apabila tingkat inflasi sepanjang januari 2006-januari 2007 cukup tinggi, katakanlah 11%, maka pendapatan dari uang yang didepositokan tinggal 4%. Minat orang untuk menabung akan berkurang.
  • Dampak Inflasi terhadap Kalkulasi Harga Pokok : Keadaan inflasi menyebabkan perhitungan untuk menetapkan harga pokok dapat terlalu kecil atau bahkan terlalu besar. Oleh karena persentase dari inflasi tidak teratur, kita tidak dapat memastikan berapa persen inflasi untuk masa tertentu. Akibatnya, penetapan harga pokok dan harga jual sering tidak tepat. Keadaan inflasi ini dapat mengacaukan perekonomian, terutama untuk produsen.
Cara Mengendalikan Inflasi
Tingkat inflasi yang terlalu tinggi dapat membahayakan perekonomian suatu negara. Oleh karena itu, inflasi harus segera diatas. Tindakan yang dapat diambil untuk mengatasi inflasi dapat berupa kebijakan moneter, kebijakan fiskal, atau kebijakan lainnya.
1.        Kebijakan Moneter
  • Kebijakan penetapan persediaan kas : Bank sentral dapat mengambil kebijakan untuk mengurangi uang yang beredar dengan jalan menetapkan persediaan uang yang beredar dengan jalan menetapkan persediaan uang kas pada bank-bank. Dengan mewajibkan bank-bank umum dapat diedarkan oleh bank-bank umum menjadi sedikit. Dengan mengurangi jumlah uang beredar, inflasi dapat ditekan. 
  • Kebijakan diskonto : Untuk mengatasi inflasi, bank sentral dapat menerapkan kebijakan diskonto dengan cara meningkatkan nilai suku bunga. Tujuannya adalah agar masyarakat terdorong untuk menabung. Dengan demikian, diharapkan jumlah uang yang beredar dapat berkurang sehingga tingkat inflasi dapat ditekan. 
  • Kebijakan operasi pasar terbuka : melalui kebijakan ini, bank sentral dapat mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara menjual surat-surat berharga, misalnya Surat Utang Negara (SUN). Semakin banyak jumlah surat-surat berharga yang terjual, jumlah uang beredar akan berkurang sehingga dapat mengurangi tingkat inflasi. 
2.        Kebijakan Fiskal 
Kebijakan fiskal adalah langkah untuk memengaruhi penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan itu dapat memengaruhi tingkat inflasi. Kebijakan itu antara lain sebagai berikut. 
  • Menghemat pengeluaran pemerintah : Pemerintah dapat menekan inflasi dengan cara mengurangi pengeluaran, sehingga permintaan akan barang dan jasa berkurang yang pada akhirnya dapat menurunkan harga. 
  • Menaikkan tarif pajak : Untuk menekan inflasi, pemerintah dapat menaikkan tarif pajak. Naiknya tarif pajak untuk rumah tangga dan perusahaan akan mengurangi tingkat konsumsi. Pengurangan tingkat konsumsi dapat mengurangi permintaan barang dan jasa, sehingga harga dapat turun. 
3.             Kebijakan Lain di Luar Kebijakan Moneter dan Kebijakan Fiskal
Untuk memperbaiki dampak yang diakibatkan inflasi, pemerintah menerapkan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Tetapi selain kebijakan moneter dan fiskal, pemerintah masih mempunyai cara lain. Cara-cara dalam mengendalikan inflasi adalah sebagai berikut.
  • Meningkatkan produksi dan menambah jumlah barang di pasar : Untuk menambah produksi, pemerintah dapat mengeluarkan produksi. Hal itu dapat ditempuh, misalnya, dengan memberi premi atau subsidi pada perusahaan yang dapat memenuhi target tertentu. Selain itu, untuk menambah jumlah barang yang beredar, pemerintah juga dapat melonggarkan keran impor. Misalnya, dengan menurunkan bea masuk barang impor. 
  • Menetapkan harga maksimum untuk beberapa jenis barang : Penetapan harga tersebut akan mengendalikan harga yang ada sehingga inflasi dapat dikendalikan. Tetapi penetapan itu harus realistis. Kalau penetapan itu tidak realistis, dapat berakibat terjadi pasar gelap (black market). 
Teori-Teori Penyebab Inflasi
Ada tiga teori yang membahas mengapa inflasi itu terjadi, yaitu teori kuantitas, teori Keynes, dan teori struktural. 
  • Teori Kuantitas : Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, kaum klasik berpendapat bahwa tingkat harga ditentukan oleh jumlah uang yang beredar. Harga akan naik jika ada penambahan uang yang beredar. Jika jumlah barang yang ditawarkan tetap, sedangkan jumlah uang ditambah menjadi dua kali lipat, maka cepat atau lambat harga akan naik menjadi dua kali lipat. 
  • Teori Keynes : Keynes melihat bahwa inflasi terjadi karena nafsu berlebihan dari suatu golongan masyarakat yang ingin memanfaatkan lebih banyak barang dan jasa yang tersedia. Karena keinginan memenuhi kebutuhan secara berlebihan, permintaan bertambah, sedangkan penawaran tetap, yang akan terjadi adalah harga akan naik, pemerintah dapat membeli barang dan jasa dengan cara mencetak uang, misalnya inflasi juga dapat terjadi karena keberhasilan pengusaha memperoleh kredit. Kredit yang diperoleh ini digunakan untuk membeli barang dan jasa sehingga permintaan agregat meningkat, sedangkan penawaran agregat tetap. Kondisi ini berakibat pada kenaikan harga-harga. 
  • Teori Struktural : Teori ini menyorot penyebab inflasi dari segi struktural ekonomi yang kaku. Produsen tidak dapat mengantisipasi cepat kenaikan permintaan yang disebabkan oleh pertambahan penduduk. Permintaan sulit dipenuhi ketika ada kenaikan jumlah penduduk. 

Rabu, 06 April 2016

tujuan dan ciri-ciri kefilsafatan




DAFTAR ISI

BAB I    PENDAHULUAN.. 3
BAB II   PEMBAHASAN.. 5
BAB III  PENUTUP. 9





BAB I

PENDAHULUAN


Filsafat atau philosophy dalam bahasa Inggris, atau falsafah dalam bahasa Arab merupakan istilah yang diwariskan dari tradisi pemikiran Yunani Kuno. Filsafat secara harfiah berarti “cinta kebijaksanaan”. Mendefinisikan filsafat tidaklah mudah, karena pengertian filsafat yang ada adalah sejumlah pemikiran para filsuf yang memberikan defenisinya masing-masing, sehingga secara subjektif para filsuf memiliki pengertiannya masing-masing. Dengan demikian, definisi yang mereka buat saling melengkapi.
Plato mengatakan : “filsafat memang tidak lain dari pada usaha mencari kejelasan dan kecermatan secara gigih yang dilakukan secara terus menerus”. Aristoteles mendefenisikan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Sedangkan menurut Descrates, filsafat ialah kumpulan segala pengetahuan dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya (Konrad Kebung, 2005). Selain pendapat-pendapat para filsuf tersebut, filsafat bisa diartikan sebagai penjelasan, yaitu menjelaskan semua yang ada dan yang mungkin ada. Sehingga metode yang digunakan dalam berfilsafat adalah metode terjemah dan menerjemahkan.
Filsafat bukan merupakan sesuatu yang bersifat abstrak karena filsafat tidak hanya berkutat dengan buku-buku sulit. Akan tetapi filsafat berangkat dari pergulatan hidup manusia di dunia atau berangkat dari realitas kehidupan sehari-hari. Dimulai dengan pertanyaan yang mendasar tentang kehidupan lalu dilanjutkan dengan penggalian. Filsafat dapat dicapai oleh makhluk hidup yang berakal (manusia) yang ingin memahami dirinya sendiri dan dunianya. Kemudian hasil dari filsafat adalah cara berpikir yang mendalam dan tepat tentang kehidupan. Sehingga secara singkat filsafat dapat dianggap sebagai berpikir atau pola pikir. Berpikir yang dimaksud adalah berpikir yang bersifat menyeluruh, mendasar dan spekulatif. Sehingga orang yang berfilsafat berarti orang tersebut berupaya melakukan pemikiran yang mendalam dan sistematis tentang berbagai permasalahan yang berkembang agar memiliki posisi dan pandangan yang jelas tentang suatu permasalahan tersebut. Akan tetapi sebenarnya berfilsafat itu lebih dari sekedar pola pikir, karena berfilsafat juga merupakan pola rasa atau pola hati dan pola krida.
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa berpikir secara filsafat berbeda dengan berpikir biasa, yang membedakan adalah metode yang digunakannya. Berpikir biasa adalah berpikirnya orang awam, yaitu berpikirnya masih tercampur, tidak berpola dan tidak sistematis. Sedangkan berpikir secara filsafat adalah berpikir secara ilmiah dan logis.
Beberapa manfaat berpikir filsafat, yaitu mengajarkan cara berpikir kritis, sebagai dasar dalam mengambil keputusan, menggunakan akal secara proporsional, membuka wawasan berpikir menuju kearah penghayatan, dan masih banyak lagi. Itulah sebabnya mengapa setiap orang diharapkan untuk selalu berpikir filsafat kapanpun, dimanapun, dan dalam situasi apapun ia berada.
Namun kenyataannya, banyak orang yang masih bingung atau tidak tahu tentang perbedaan cara berpikir secara filsafat dan berpikir biasa. Banyak orang yang salah mengartikan, bahwa orang yang berpikir berarti berfilsafat. Padahal sebenarnya orang berpikir belum tentu berfilsafat walaupun oarang yang berfilsafat berarti berpikir. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang cara berpikir secara filsafat.

Adapun yang menjadi rumusan permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.      Apakah tujuan filsafat?
2.      Bagaimana ciri-ciri Kefilsafatan?

Berdasarkan masalah di atas, maka tujuan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui tujuan filsafat
2.      Untuk mengetahui ciri-ciri kefilsafatan



BAB II

PEMBAHASAN

Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : “philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab. Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari bahasa Yunani yaitu philosophia – philien : cinta dan sophia : kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dan seorang filsuf adalah pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. 
Filsafat bertujuan untuk mencari hakikat dari sesuatu gejala atau fenomena secara mendalam. Ilmu pengetahuan empiris hanya membicarakan gejala-gejala atau fenomena saja. Pada dasarnya tujuan mempelajari filsafat dapat dikemukakan sebagai berikut :
1.     Dengan berfilsafat dapat menjadikan manusia lebih terdidik dan dapat membangun diri sendiri.
2.     Bersikap objektif dalam memandang kehidupan ini.
3.     Berpandangan luas, filsafat dapat menyembuhkan diri dari kepicikan dan ego.
4.     Filsafat mengajarkan untuk mampu berpikir mandiri (tidak ikut-ikutan).
5.     Filsafat memberikan petunjuk  dengan metode pemikiran reflektif dan penelitian penalaran supaya dapat menyerasikan antara logika, rasa, rasio, pengalaman dan agama di dalam usaha manusia mencapai pemenuhan kebutuhannya dalam usaha yang lebih lanjut yaitu “mencapai hidup bahagia dan sejahtera”.
Jadi di dalam filsafat harus refleksi, radikal dan integral. Refleksi berarti manusia menangkap objeknya secara intensional dan sebagai hasil dari proses tersebut adalah keseluruhan nilai dan makna yang diungkapkan dari objek-objek yang dihadapinya. Radikal berasal dari kata “radix” berarti akar, jadi filsafat berarti mencari pengetahuan sedalam-dalamnya atau sampai ke akar-akarnya. Filsafat ingin menembus hingga inti masalah dengan mencari faktor-faktor yang fundamental yang membentuk adanya sesuatu. Namun hal ini dibatasi oleh sejauhmana kemampuan manusia dapat menemukannya. Sebab filsafat tidak akan membicarakan yang jelas berada di luar jangkauan akal budi yang sehat. Sedangkan filsafat itu integral berarti mempunyai kecenderungan untuk memperoleh pengetahuan yang utuh sebagai suatu keseluruhan. Jadi filsafat ingin memandang objeknya secara keseluruhan.
Manusia Berpikir Filosofi artinya Manusia memiliki pola berpikir yang lebih kritis dibandingkan dengan makhluk lainnya, sehingga manusia dikatakan sebagai makhluk yang sempurna. Lalu bagaimanakah cara membedakan orang yang berpikir biasa dengan orang yang berpikir filsafat?
Berikut ini beberapa ciri-ciri manusia yang berpikir filsafat:
1.      Berpikir secara Radikal (Mendasar)
Berpikir secara radikal artinya, berpikir sampai ke akar-akarnya adalah berpikir sampai pada hakikatnya, esensi atau sampai pada substansi yang dipikirkan. Manusia yang berfilsafat dengan akalnya berusaha untuk dapat menangkap pengetahuan hakiki, yaitu pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan indrawi.
Seorang filsuf tidak percaya begitu saja kebenaran ilmu yang diperolehnya. Ia selalu ragu dan mempertanyakannya; Mengapa ilmu dapat disebut benar? Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan? Apakah kriteria itu sendiri benar? Lalu benar itu sendiri apa? Seperti sebuah lingkaran dan pertanyaan-pertanyaan pun selalu muncul secara bergantian. Artinya, pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental atau esensial objek yang dipelajarinya sehingga dapat dijadikan dasar berpijak bagi segenap nilai dan keilmuan. Jadi, tidak hanya berhenti pada periferis (kulitnya) saja, tetapi sampai tembus ke kedalamannya.


2.      Berpikir secara menyeluruh.
Berpikir secara menyeluruh artinya Pemikiran yang luas karena tidak membatasi diri dan bukan hanya ditinjau dari satu sudut pandang tertentu. Pemikiran kefilsafatan ingin mengetahui hubungan antara ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu yang lain, hubungan ilmu dan moral, seni dan tujuan hidup.

3.      Berpikir secara spekulatif.
Seorang yang berpikir filsafat melakukan spekulasi terhadap kebenaran. Sifat spekulatif itu pula seorang filsuf terus melakukan uji coba lalu melahirkan sebuah pengetahuan dan dapat menjawab pertanyaan terhadap kebenaran yang dipercayainya.

4.      Berpikir secara sistematik.
Dalam mengemukakan jawaban terhadap suatu masalah, para filsuf memakai pendapat-pendapat sebagai wujud dari proses befilsafat. Pendapat-pendapat itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung maksud dan tujuan tertentu.

5.      Berpikir dengan pemikiran yang bertanggungjawab.
Pertanggungjawaban yang pertama adalah terhadap hati nuraninya sendiri. Berpikir filsafat seolah-olah mendapat panggilan untuk membiarkan pikirannya menjelajahi kenyataan. Namun, fase berikutnya adalah bagaimana merumuskan pikiran-pikirannya itu agar dapat dikomunikasikan pada orang lain serta dipertanggungjawabkan.

6.      Berpikir secara Bebas
Berpikir secara bebas adalah bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural ataupun religius. Berpikir dengan bebas bukan berarti sembarangan, sesuka hati atau anarkhi, sebaliknya bahwa berpikir bebas adalah berpikir secara terikat akan tetapi ikatan itu berasal dari dalam kaidah-kaidah disiplin pikiran itu sendiri. Dengan demikian pikiran dari luar sangat bebas, namun dari dalam sangatlah terikat.

7.      Berpikir secara koheren dan konsisten.
Berpikir secara koheren dan konsisten artinya, berpikir sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir dan tidak mengandung kontradiksi atau dapat pula diartikan dengan berpikir secara runtut.
Berdasarkan ciri-ciri filsafat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa berfilsafat adalah suatu aktivitas yang menggunakan potensi akal seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya tanpa dibatasi oleh sesuatu apapun secara radikal, sistematis, universal dan menyeluruh serta bersifat spekulatif dan mendasar dalam mengungkap hakikat suatu kebenaran. Artinya, hasil pemikiran yang didapat dijadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya. Hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai dasar untuk menjelajah wilayah pengetahuan yang baru. Meskipun demikian, tidak berarti hasil pemikiran kefilsafatan itu meragukan, karena tidak pernah mencapai penyelesaian.













BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. 
Filsafat bertujuan untuk mencari hakikat dari sesuatu gejala atau fenomena secara mendalam. Jadi berfilsafat adalah suatu aktivitas yang menggunakan potensi akal seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya tanpa dibatasi oleh sesuatu apapun secara radikal, sistematis, universal dan menyeluruh serta bersifat spekulatif dan mendasar dalam mengungkap hakikat suatu kebenaran. Artinya, hasil pemikiran yang didapat dijadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya. Hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai dasar untuk menjelajah wilayah pengetahuan yang baru. Meskipun demikian, tidak berarti hasil pemikiran kefilsafatan itu meragukan, karena tidak pernah mencapai penyelesaian.












DAFTAR PUSTAKA


Abdul Hakim,dkk, Atang. 2008. Filsafat Umum.Bandung : CV Pustaka Setia
Muzairi. 2009. Filsafat Umum. Yogyakarta : Teras.
Purba, Edward dan Yusnadi.2015.Filsafat Pendidikan.Medan : Unimed Press
Tafsir, Ahmad, 2003. Filsafat Umum. Bandung : PT Remaja Rosdakarya