BAB I
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan ini dari waktu ke waktu peserta didik mengalami suatu
perkembangan, baik dalam fisik
atau psikologisnya. Dimana dalam kehidupan sehari-hari perkembangan fisik lebih
dikenal dengan sebutan pertumbuhan, sedangkan pada yang lainnya (non fisik)
dinamakan perkembangan psikologis.
Perkembangan peserta didik dapat diartikan sebagai perubahan-perubahan
tertentu yang muncul pada diri peserta didik. Dimana dalam makalah ini sedikit banyak akan dibahas mengenai teori-teori
perkembangan perkembanagan peserta didik tersebut. Sehingga
dengan dibahasnya teori-teori tersebut dapat membantu orangtua atau guru dalam
memahami tingkah laku dan mendidik anak-anaknya.
Sehingga
ketika besok kita sudah menjadi guru atau orang tua tidak salah dalam mendidik
atau menanggapi tingkah laku anak didik atau anak kita sendiri. Karena banyak
kasus yang salah dalam pengambilan tindakan yang dilakukan guru atau orangtua
terhadap anak didiknya atau anaknya sendiri. Yaitu salah dalam hal memahami
keinginan atau tindakan “super” (anak berkebutuhan khusus) dari peserta didik
atau anak kita sendiri.
Sehingga
disuatu kesempatan kita tidak menghambat langkah dari anak-anak tersebut. Yaitu
ketika anak sudah pintar berlari kita malah baru mengajarinya berjalan, dan
ketika para anak-anak sudah dapat terbang kita sebagai guru atau orang tua
malah baru mengajarinya berlari. Oleh
sebab itu para peserta didik harus memahami perkembangan peserta didik sehingga
dapat berusaha secara optimal untuk mengembangkan peserta didik mereka.
1. Apakah
yang dimaksud dengan teori psikoanalisis?
2. Bagaimana
teori psikoanalisis menurut Sigmund freud dan erik erikson?
3. Apakah
yang dimaksud dengan teori kognitif?
4. Bagaimana
teori kognitif menurut piaget, vygotsky dan teori pemrosesan informasi?
1. Untuk
mengetahui pengertian dari teori psikoanalisis
2. Untuk
mengetahui teori psikoanalisis menurut Sigmund freud dan erik erikson
3. Untuk
mengetahui pengertian teori kognitif
4. Untuk
mengetahuo teori kognitif menurut piaget, vygotsky dan teori pemrosesan
informasi
BAB II
PEMBAHASAN
Prespektif
dasar dari psikoanalisis adalah bahwa tingkah laku orang dewasa merupakan
refleksi (penjelmaan) pengalaman masa kecilnya. Teori psikoanalisis memperkenalkan konsep ketidaksadaran sebagai
bagian kepribadian, dimana terletak keinginan-keinginan, impuls-impuls dan
konflik-konflik yang dapat mempunyai pengaruh langsung pada tingkah laku. Pada
dasarnya tingkah laku individu dipengaruhi atau dimotivasi oleh determinan
kesadaran maupun ketidak sadaran.
Psikoanalisis
yang pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud memang merupakan teori yang
kontroversial. Selain itu, orientasinya juga sangat individual. Oleh sebab itu,
tidak semua teorinya relevan dengan yang dibicarakan tentang teori-teori
psikologi sosial.Tapi tidak dapat disangkal bahwa ada bagian-bagian dari teori
Freud yang erat kaitannya dengan psikologi sosial, bisa menerangkan beberapa
gejala psikologi sosial, bahkan disana sini ada beberapa pandangan Freud yang
didasari pada hal-hal yang bersifat sosial budaya.
1. TEORI FREUD
Sigmund Freud adalah seorang
psikolog yang berasal dari kota Wina, Austria. Teori psikoanalisis adalah
teori yang di kembangkan oleh Dr. Sigmund Freud sehingga lebih dikenal dengan
nama Aliran Freud. Psikonalisis
merupakan suatu pandangan baru tentang manusia pada abad 20-an, dimana
ketidaksadaran memainkan peranan sentral. Pandangan ini mempunyai relevansi
praktis, karena dapat digunakan dalam mengobati pasien-pasien yang mengalami
gangguan-gangguan psikis. Teori psikoanalisa lahir dari praktek dan tidak dari
sebaliknya.
Secara skematis Sigmund Freud
mengambarkan jiwa sebagai Gunung Es dimana bagian yang muncul di permukaan air
merupakan bagian terkecil yaitu puncak dari Gunung Es itu yang dalam hal
kejiwaan adalah bagian kesadaran (conciousnes),
agak di bawah permukaan adalah bagian pra kesadaran (sub conciousness) dan bagian terbesar terletak di dasar air yang
dalam hal kejiwaan merupakan alam ketidaksadaran (unconciousness). Sehingga dapat dikatakan bahwa kehidupan mausia
dikuasai oleh alam ketidaksadaran dan berbagai kelainan tingkat laku dapat
disebabkan karena faktor-faktor yang terpendam dalam alam ketidaksadaran.
Dalam psikoanalisa dikenal adanya
tiga aspek yaitu psikoanalisa sebagai teori kepribadian, psikoanalisa sebagai
teknik evaluasi kepribadian dan psikoanalisa sebagai teknik terapi
(penyembuhan).
Struktur
Kepribadian
Menurut Freud kepribadian terdiri
atas tiga sistem atau aspek yaitu: id (aspek biologis), ego (aspek psikologis) dan superego (aspek sosiologis). Untuk
mempelajari dan memahami sistem kepribadian manusia, Freud berusaha
mengembangkan model kepribadian yang saling berhubungan dan menimbulkan
ketegangan antara satu dengan yang lainnya. Konflik dasar ketiga sistem
kepribadian tersebut dapat menciptakan energi psikis individu dan memiliki
sistem kerja, sifat serta fungsi yang berbeda. Meskipun demikian antara satu
dengan yang lainnya merupakan satu tim yang saling bekerja sama dalam
mempengaruhi perilaku manusia.
1. Id (Das Es) :
aspek biologis
Id merupakan lapisan
psikis yang paling dasariah, kawasan eros dan thanos berkuasa. Dalam id terdapat naluri-naluri bawaan
biologis (seksual dan agresif, tidak ada pertimbangan akal atau etika dan yang
menjadi pertimbangan kesenangan) serta keinginan- keinginan yang direpresi.
Hidup psikis janin sebelum lahir dan bayi yang baru dilahirkan terdiri dari id saja. Jadi id sebagai bawaan waktu lahir merupakan bahan dasar bagi
pembentukan hidup psikis lebih lanjut.
Sedangkan naluri id merupakan prinsip kehidupan yang
asli atau pertama, yang oleh Freud dinamakan prinsip kesenangan, yang tujuannya
adalah untuk membebaskan seseorang dari ketegangan atau mengurangi jumlah
ketegangan sehinga menjadi lebih sedikit dan untuk menekannya sehingga sedapat
mungkin menjadi tetap. Ketegangan dirasakan sebagai penderitaan atau kegerahan
sedangkan pertolongan dari ketegangan dirasakan sebagai kesenangan.
Id
tidak diperintahkan oleh hukum akal atau logika dan
tidak memiliki nilai etika ataupun akhlak. Id hanya didorong oleh satu pertimbangan yaitu mencapai kepuasan
bagi keinginan nalurinya, sesuai dengan prinsip kesenangan.
Menurut
Freud ada dua cara yang dilakukan oleh id
dalam memenuhi kebutuhannya untuk meredakan ketegangan yang timbul yaitu
melalui reflek seperti berkedip dan melalui proses primer seperti membayangkan
makanan pada saat lapar. Sudah pasti dengan membayangkan saja kebutuhan kita
tidak akan terpenuhi melainkan hanya membantu meredekan ketegangan dalam diri
kita. Agar tidak terjadi konflek maka dari itu diperlukan sistem lain yang
dapat merealisasikan imajinasi itu menjadi kenyataan sistem tersebut adalah ego.
2. Ego (Das Ich) : aspek psikologis
Ego
adalah sistem kepribadian yang didominasi kesadaran
yang terbentuk sebagai pengaruh individu kepada dunia obyek dari kenyataan dan
menjalankan fungsinya berdasarkan pada prinsip kenyataan berarti apa yang ada.
Jadi ego terbentuk pada
struktur kepribadian individu sebagai hasil kontak dengan dunia luar. Adapun
proses yang dimiliki dan dijalankan ego
sehubungan dengan upaya menawarkan dengan kebutuhan atau mengurangi
ketegangan.
Ego
merupakan pelaksanaan dari kepribadian, yang
mengontrol dan memerintahkan id dan
superego serta memelihara hubungan dengan dunia luar untuk kepentingan seluruh
kepribadian yang keperluannya luas. Jika ego
melakukan faal pelaksanaannya dengan bijaksana akan terdapat
keharmonisan dan keselarasan. Kalau ego
mengarah atau menyerahkan kekususannya terlalu banyak kepada id, kepada superego ataupun kepada dunia luar akan terjadi kejanggalan dan
kesadarannya pun tidak teratur.
Selain itu ego juga merupakan hasil dari tindakan saling mempengaruhi
lingkungan garis perkembangan idividu yang ditetapkan oleh keturunan dan
dibimbing oleh proses-proses pertumbuhan yang wajar. Ini berarti bahwa setiap
orang memiliki potensi pembawaan untuk berpikir dan menggunakan akalnya.
Sehingga dapat dikatakan bahwaa kebanyakaan ego bekerja di bidang kesadaran, terkadang juga pada alam
ketidaksadaran dan melindungi individu dari gangguan kecemasan yang disebabkan
oleh tuntutan id dan superego.
3. Superego (Das Ueber Ich)
:
aspek sosiologis
Superego merupakan sistem kepribadian yang berisi nilai-nilai
moral bersifat evaluatif (memberikanbatasan baik dan buruk). Menurut Freud superego merupakan internalisasi
idividu tentang nilai masyarakat, karena pada bagian ini terdapat nilai moral
yang memberiakan batasan baik dan buruk.
Dengan kata lain superego
dianggap pula sebagai moral kepribadian. Adapun fungsi pokok dari superego jika dilihat dari hubungan
dengan ketiga aspek kepribadian adalah merintangi impuls-impuls ego terutama impuls-impuls seksual
dan agresif yang pernyataannya sangat ditentang oleh masyarakat dan mendorong ego untuk lebih mengejar hal-hal yang
moralistis daripada yang realistis serta mengejar kesempurnaan yang diserap
individu dari lingkungannya.
Sedangkan dalam superego yang bersifat ideal, Freud
membaginya kedalam dua kumpulan yaitu suara hati (cansience) dan ego ideal.
Kata hati didapat melalui hukuman oleh orang tua, sedangkan ego ideal dipelajari melalui
penggunaan penghargaan.
Superego dapat obyektif dan lingkungan proses rohaniah yang
lebih tinggi maka superego dapat
dianggap sebagai hasil sosialisasi dengan adat tradisi kebudayaan. Superego dalam peranannya sebagai
penguasa dari dalam dirinya kemudian mengambil tindakan serangan terhadap ego. Setiap kali ego mengandung pikiran untuk memusuhi
atau membrontak terhadap seorang yang berkuasa di luar. Oleh karena itu ego merupakan agen dari penghidupan superego dengan jalan berusaha untuk
menghancurkan ego mempunyai
tujuan yang sama dengan keinginan mati yang semula dalam id. Itulah sebabnya maka superego dikatakan menjadi agen dari
naluri-naluri kematian.
Sigmund Freud secara sistematis
membagi tingkat perkembangan seseorang didalam beberapa fase. Tingkat
perkembangan ini erat sekali hubungannya dengan perkembangan kehidupan seksual
dan karenanya disebut sebagai psychosexsual
development.
Fase-fase tersebut adalah sebagai
berikut:
1.
Fase
infantile (0,0 – 5,0 th)
·
Fase oral (0 –1 th).
Fase oral merupakan fase yang paling
awal pada perkembangan psikoseksual seseorang karena seorang bayi sejak lahir
alat yang paling penting memberi kenikmatan dalam hidupnya adalah mulutnya
sendiri. Hal ini disebabkan karena melalui mulutnya ia dapat berhubungan dengan
alat tubuh yang dapat memberi kenikmatan yaitu payudara ibu.
Apabila sumber kenikmatan yang pokok
tidak terpenuhi, maka bayi akan mencari kepuasan dengan mengisap jempol atau
benda lainnya. Bayi akan menelannya apabila yang ada dalam mulut menyenangkan
dan akan menyemburkan apabila yang ada dalam mulutnya bila dia rasakan tidak menyenangkan.
Minat mulut untuk memenuhi kepuasan
ini tidak akan pernah lenyap walaupun si anak telah tumbuh menjadi orang
dewasa. Menurut Freud hal ini dapat dilihat pada banyak orang dewasa yang gemar
menghisap rokok dan berciuman. Kesulitan yang dialami oleh bayi pada fase oral
akan megakibatkan energi libidinal terpusat pada fase ini dan individu akan
kekurangan energi untuk mengatasi kesulitan- kesulitan yang mucul pada
fase-fase berikutnya.
·
Fase anal (1 – 3 th).
Fase ini fokus dari energi libidinal
dialihkan dari mulut kedaerah dubur serta kesenangan atau kepuasan diperoleh
dalam kaitannya dengan tindakan mempermainkan atau menahan faeces.
Mulai dari fase ini, anak akan
mendapat pengalaman untuk yang pertama tentang pengaturan impuls-impulsnya dari
luar. Anak harus belajar menunda kenikmatan yang timbul dari defekasi (bebaskan
diri). Sedangkan pengaruh yang akan diterima anak dalam pembiasaan akan kebersihan
ini dapat mempunyai pengaruh yang besar pada sifat-sifat kepribadian anak
dikemudian hari. Apabila sang ibu besikap keras dan menahan anak mungkin juga
menahan faecesnya. Jika reaksi ini meluas kelain-lain hal maka anak dapat
mempunyai sikap kurang bebas, kurang berani, tertekan dan lain-lain.
Tetapi beda jika ibu bersikap
membimbing dengan penuh kasih sayang dan memuji apabila anak devekasi maka anak
mungkin memperoleh pengertian bahwa memproduksi faeces merupakan aktifitas
penting. Pengertian ini akan menjadi dasar daripada kreaitifitas dan
produksifitas. Hal yang terpenting pada fase ini adalah anak memperoleh rasa
memiliki kekuatan, kemandirian dan otonomi. Jika orang tua berbuat terlalu
banyak bagi anaknya ini berarti bahwa si orang tua mengajari anaknya itu untuk
tidak memiliki kesanggupan menjalankan fungsi diri. Jadi pada fase anal ini
anak perlu bereksperimen, berbuat salah atau merasa bahwa mereka tetap diterima
untuk kesalahannya itu dan menyadari diri sebagai individu yang terpisah dan
mandiri.
·
Fase falik (3-5 th).
Pada fase falik ini yang menjadi
pusat perhatian adalah perkembangan seksual dan rasa agresi serta fungsi,
alat-alat kelamin. Kenikmatan masturbasi mengalami peningkatan serta khayalan
yang menyertai aktifitas otoerotik sangat penting. Anak menjadi lebih ingin
tahu tentang tubuhnya. Mereka berhasrat untuk mengeksplorasi tubuh sendiri dan
menemukan perbedaan- perbedaan diantara kedua jenis kelamin.
Fase falik merupakan periode
perkembangan hati nurani, suatu masa ketika anak belajar mengenal standar moral
dan bahaya yang kritis adalah indoktrinasi standar-standar moral yang kaku dan
realistis dari orang tua yang bisa mengarah pada pengendalian superego secara berlebihan sehingga
mematuhi moral tetapi hanya karena takut. Efek efek lainnya adalah
konflik-konflik yang kuat, perasaan bedosa, penuh sesal rendahnya rasa harga
diri dan penghukuman diri.
Pada fase falik ini ada kompleks oedipus dan electra complex. Kompleks Oedipus merupakan keinginan
anak laki-laki yang terarah pada ibunya sendiri. Sedagkan permusuhan
dilontarkan pada ayah yang dianggap sebagai saingannya. Electra complex ini kebalikan dari kompleks Oedipus, jadi electra
complex ini pada anak perempuan.
2. Fase latensi (5,0 – 12
th)
Fase latensi disebut juga periode
teduh. Suatu periode yang cukup panjang yang berlangsung sampai masa pubertas.
Sepanjang periode ini aktifitas libidinal berkurang dan kita dapat mengamati
suatu deseksualitas dalam pergaulan dengan orang lain dan dalam hidup emosional
si anak. Dari sini mulai terbentuk rasa malu dan aspirasi- aspirasi moral serta
estetis. Rupanya perkembangan psikoseksual dari tahun pertama sama sekali
dilupakan seolah-olah ada aktifitas seksual. Fase ini biasanya pada anak usia
tujuh, delapan tahun sampai ia menginjak remaja.
3. Fase pubertas (12 – 18
th)
Dalam fase ini dorongan-dorongan
mulai muncul kembali, apabila dorongan-dorongan ini dapat ditransfer dan
disublimasikan dengan baik, maka anak akan sampai pada masa kematangan terakhir
yaitu: fase genital.
4. Fase genital
Fase ini dimulai pada masa remaja,
dimana segala kepuasan terpusat pada alat kelamin. Karakter genital
mengiktisarkan tipe ideal dari kepribadian yakni terdapat pada orang yang mampu
mengembangkan retasi seksual yang matang dan bertanggung jawab serta mampu
memperoleh kepuasan dari percintaan heteroseksual. Untuk memperoleh karakter
genital ini individu haruslah terbebas dari ketidakpuasan dan hambatan pada
anak-anak. Pengalaman-pengalamn traumatik dimasa anak-anak atau mengalami
fiksasi libido maka penyesuaian selama fase genital akan sulit.
Secara teoritis setiap orang harus
melewati fase-fase tersebut dalam perkembangan psikoseksualnya. Apabila terjadi
gangguan pada salah satu fase maka akan terjadi ketidakpuasan yang dapat
menyebabkan terjadinya neurose pada orang tersebut dikemudian hari setelah ia dewasa.
Dengan demikian maka untuk menilai kepribadian seorang penderita neurose dan
mecari faktor-faktor penyebab neurose itu perlu diteliti segala peristiwa yang
pernah terjadi selama tingkat-tingkat perkembangan psikoseksual, yang terdiri
dari beberapa fase tersebut.
Eric
Erikson mengembangkan teori psikososial
sebagai pengembangan teori psikoanalisis dari Freud. Di dalam teori psikososial disebutkan bahwa tahap
perkembangan individu selama siklus hidupnya, dibentuk oleh pengaruh sosial yang
berinteraksi dengan individu yang menjadi matang secara fisik dan psikologis.
Secara umum inti dari teorinya adalah :
1. Perkembangan emosional sejajar dengan pertumbuhan fisik.
2. Adanya interaksi antara pertumbuhan fisik dan perkembangan psikologis.
3. Adanya keteraturan yang sama antara pertumbuhan fisik dan perkembangan
psikologis.
4. Dalam menuju kedewasaan, perkembangan psikologis, biologis, dan sosial akan
menyatu.
5. Pada setiap saat anak adalah gabungan dari organisme, ego, dan makhluk
sosial.
6. Perkembangan manusia dari sejak lahir hingga akhir hayat dibagi dalam 8
fase, dengan tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan pada setiap fase.
Teori perkembangan yang dikemukakan Erik Erikson merupakan salah satu teori
yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Erik erikson menyimpulkan bahwa
perkembangan anak itu mengalami delapan tahap dan setiap tahapnya menawarkan
potensi kemajuan dan potensi kemunduran ( Human Development;1978).
Teori Erikson dikatakan juga sebagai salah satu teori yang sangat selektif
karena didasarkan pada tiga alasan. Alasan yang pertama, karena teorinya sangat
representatif dikarenakan memiliki kaitan atau hubungan dengan ego yang
merupakan salah satu aspek yang mendekati kepribadian manusia. Kedua,
menekankan pada pentingnya perubahan yang terjadi pada setiap tahap
perkembangan dalam lingkaran kehidupan, dan yang ketiga/terakhir adalah
menggambarkan secara eksplisit mengenai usahanya dalam mengabungkan pengertian
klinik dengan sosial dan latar belakang yang dapat memberikan kekuatan/kemajuan
dalam perkembangan kepribadian didalam sebuah lingkungan.
Melalui
teorinya Erikson memberikan sesuatu yang baru dalam mempelajari mengenai
perilaku manusia dan merupakan suatu pemikiran yang sangat maju guna memahami
persoalan/masalah psikologi yang dihadapi oleh manusia pada jaman modern
seperti ini. Oleh karena itu, teori Erikson banyak digunakan untuk
menjelaskan kasus atau hasil penelitian yang terkait dengan tahap perkembangan,
baik anak, dewasa, maupun lansia.
Delapan tahap/fase
perkembangan menurut Erikson memiliki ciri utama setiap tahapnya adalah di satu
pihak bersifat biologis dan di lain pihak bersifat sosial, yang berjalan
melalui krisis diantara dua polaritas. Kedelapan tahapan perkembangan
kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini :
1. Trust vs Mistrust (Kepercayaan vs
Kecurigaan)
Masa bayi (infancy)
ditandai adanya kecenderungan trust-mistrust.
Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai
orang-orang di sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi
orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. Oleh karena itu
kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia
bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda
asing, tempat asing, suara asing, perlakuan asing dan sebagainya. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis.
2. Otonomi vs
Perasaan Malu dan Ragu-ragu
Masa kanak-kanak awal (early
childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy-shame, doubt. Pada masa ini sampai batas-batas tertentu
anak sudah bisa berdiri sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan, bermain,
minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi di pihak lain
dia telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga
seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.
3. Inisiatif vs Kesalahan
Masa pra sekolah (Preschool Age)
ditandai adanya kecenderungan initiative-guilty.
Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan
kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi
karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami
kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan
bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat.
4. Kerajinan vs Inferioritas
Masa Sekolah (School Age)
ditandai adanya kecenderungan industry-inferiority.
Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak
sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk
mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak
lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya
kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.
5. Identitas vs Kekacauan Identitas
Tahap kelima merupakan tahap adolesen (remaja), yang dimulai pada saat masa
puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya
kecenderungan identity-Identity
Confusion. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh
kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk
dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan
membentuk dan memperlihatkan identitasdiri ini, pada para remaja sering sekali
sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh
lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Dorongan pembentukan
identitas diri yang kuat di satu pihak, sering diimbangi oleh rasa setia kawan
dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Di antara kelompok sebaya
mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali mereka sangat patuh terhadap
peran yang diberikan kepada masing-masing anggota.
6. Keintiman vs Isolasi
Tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka setiap individu akan
memasuki jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar
20-30 tahun. Masa Dewasa Awal (Young
adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy-isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu
memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan
kelompok sudah mulai longgar. Mereka sudah mulai selektif, dia membina hubungan
yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini
timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang
tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya.
7. Generativitas vs Stagnasi
Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh
orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan
generativity-stagnation. Sesuai
dengan namanya masa dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari
perkembangan segala kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup
banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan
kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala
macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas.
Untuk mengerjakan atau mencapai hal– hal
tertentu ia mengalami hambatan.
8. Integritas vs Keputusasaan
Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang
diduduki oleh orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Masa hari
tua (Senescence) ditandai
adanya kecenderungan ego integrity-despair.
Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua
yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang
telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Mungkin
ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi
karena faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai.
Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus berprestasi
masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan
tersebut, sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya.
Evaluasi terhadap teori-teori psikoanalisis
Kontribusi dan teori-teori psikoanalisis
meliputinpenekanannya pada faktor-faktor sebagai berikut.
1. Pengalaman masa awal memainkan peranan penting bagi
perkembangan
2. Relasi keluarga merupakan salah satu aspek pokok dari
perkembangan
3. Kepribadian dapat di pahami secara lebih baik apabila
kepribadian juga di telaah dari sisi perkembangannya
4. Pikiran tidak sepenuhnya disadari; aspek-aspek yang
tidak disadari dari pikiran perlu dipertimbangkan
5. Dalam teori erikson perubahan dapat berlangsung dimasa
dewasa maupun di masa kanak-kanak.
Kritik
terhadap teori psikoanalisis
1. Konsep-konsep utama dari teori-teori psikoanalisis
sulit diuji secara ilmiah
2. Banyak data yang digunakan untuk mendukung teori-teori
psikoanalisis, berasal dari rekonstruksi individu terhadap masa lalunya
seringkali jauh dimasa di lalu yang akurasinya tidak diketahui
3. Terlalu banyak menekankan pentingnya peranan
seksualitas terhadap perkembangan (khususnya teori freud)
4. Terlalu banyak menekankan pentingnya pengaruh pikiran
yang tidak disadari terhadap perkembangan
5. Teori-teori psikoanalisis memberikan suatu gambaran
mengenai manusia yang terlalu negatif (khususnya dalam teori freud)
Kognitif adalah
salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikan sebagai
potensi intelektual yang terdiri dari tahapan: pengetahuan (knowledge),
pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa
(sinthesis), evaluasi (evaluation).
Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan
kemampuan rasional (akal).
Teori
kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan
kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif
berbeda dengan teori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan
perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang
datang kepada dirinya.
Dalam
kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata kognitif. Dari aspek tenaga
pendidik misalnya. Seorang dosen diharuskan memiliki kompetensi bidang
kognitif. Artinya dosen tersebut harus memiliki kemampuan intelektual, seperti
penguasaan materi perkuliahan, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan
cara menilai mahasiswa dan sebagainya.
1.
TEORI
PIAGET
Jean
Piaget (1896-1980), pakar psikologi dari Swiss, mengatakan bahwa anak dapat
membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Dalam pandangan Piaget,
terdapat dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu, yaitu
pengorganisasian dan penyesuaian (adaptasi). Kecenderungan organisasi dapat
dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk mengintegasi
proses-proses sendiri menjadi sistem-sistem yang koheren. Adaptasi dapat
dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk memyesuaikan
diri dengan lingkungan dan keadaan sosial.
Menurut
Piaget, perkembangan kognitif mempunyai empat aspek, yaitu: 1) kematangan,
sebagai hasil perkembangan susunan syaraf; 2) pengalaman, yaitu hubungan timbal
balik antara orgnisme dengan dunianya; 3) interaksi sosial, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam
hubungannya dengan lingkungan sosial, dan 4) ekuilibrasi, yaitu adanya kemampuan atau sistem mengatur dalam diri organisme agar dia selalu mampu
mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
Piaget
membagi perkembangan kognitif anak ke dalam 4 periode utama yang berkorelasi
dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
a. Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
Bagi anak yang berada pada
tahap ini, pengalaman diperoleh melalui fisik (gerakan anggota tubuh) dan
sensori (koordinasi alat indra). Pada mulanya pengalaman itu bersatu dengan
dirinya, ini berarti bahwa suatu objek itu ada bila ada pada penglihatannya.
Perkembangan selanjutnya ia mulai berusaha untuk mencari objek yang asalnya
terlihat kemudian menghiang dari pandangannya, asal perpindahanya terlihat.
Akhir dari tahap ini ia mulai mencari objek yang hilang bila benda tersebut
tidak terlihat perpindahannya. Objek mulai terpisah dari dirinya dan bersamaan
dengan itu konsep objek dalam struktur kognitifnya pun mulai dikatakan matang.
Ia mulai mampu untuk melambungkan objek fisik ke dalam symbol-simbol, misalnya
mulai bisa berbicara meniru suara kendaraan, suara binatang, dll.
b. Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
Tahap ini adalah tahap persiapan
untuk pengorganisasian operasi konkrit. Pada tahap ini pemikiran anak lebih
banyak berdasarkan pada pengalaman konkrit daripada pemikiran logis, sehingga
jika ia melihat objek-ojek yang kelihatannya berbeda, maka ia mengatakanya
berbeda pula. Pada tahap ini anak masih berada pada tahap pra operasional belum
memahami konsep kekekalan (conservation),
yaitu kekekalan panjang, kekekalan materi, luas, dll. Selain dari itu,
cirri-ciri anak pada tahap ini belum memahami dan belum dapat memikirkan dua
aspek atau lebih secara bersamaan.
c. Periode operasional konkrit (usia 7–11
tahun)
pada umumnya anak-anak pada tahap
ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda benda konkrit. Kemampuan
ini terwujud dalam memahami konsep kekekalan, kemampuan untuk
mengklasifikasikan dan serasi, mampu memandang suatu objek dari sudut pandang
yang berbeda secara objektif. Anak pada tahap ini sudah cukup matang untuk
menggunakan pemikiran logika, tetapi hanya objek fisik yang ada saat ini (karena
itu disebut tahap operasional konkrit). Namun, tanpa objek fisik di hadapan
mereka, anak-anak pada tahap ini masih mengalami kesulitan besar dalam
menyelesaikan tugas-tugas logika.
d. Periode operasional formal (usia 11
tahun sampai dewasa)
Anak pada tahap ini sudah
mampu melakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang abstrak dan
menggunakan logika. Penggunaan benda-benda konkret tidak diperlukan lagi. Anak
mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan dengan objek atau peristiwa
berlangsung. Penalaran terjadi dalam struktur kognitifnya telah mampu hanya
dengan menggunakan simbol-simbol, ide-ide, astraksi dan generalisasi. Ia telah
memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan operasi-operasi yang menyatakan
hubungan di antara hubungan-hubungan, memahami konsep promosi.
2.
TEORI
VYTGOTSKY
Lev Vygotsky (1896-1934) menekankan bagaimana
proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran
melibatkan pembelajaran menggunakan temuan-temuan masyarakat seperti bahasa,
sistem matematika, dan alat-alat ingatan. Ia juga menekankan bagaimana
anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah
terampil di dalam bidang-bidang tersebut. Penekanan Vygotsky pada peran
kebudayaan dan masyarakat di dalam perkembangan kognitif berbeda dengan
gambaran Piaget tentang anak sebagai ilmuwan kecil yang kesepian. Menurut
Vygotsky, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang relatif dasar seperti
kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan perhatian. Namun, anak-anak
tak banyak memiliki fungsi mental yang lebih tinggi seperti ingatan, berfikir
dan menyelesaikan masalah.
Seperti Piaget, Vygotsky menekankan
bahwa anak-anak secara aktif menyusun pengetahuan mereka. Akan tetapi menurut
Vygotsky, fungsi-fungsi mental memiliki koneksi-koneksi sosial. Vygotsky
berpendapat bahwa anak-anak mengembangkan konsep-konsep lebih sistematis,
logis, dan rasional sebagai akibat dari percakapan dengan seorang penolong yang
ahli.
a. Konsep
Zona Perkembangan Proksimal (ZPD)
Zona Perkembangan
Proksimal adalah istilah Vygotsky untuk rangkaian tugas yang terlalu sulit
dikuasai anak seorang diri tetapi dapat diipelajari dengan bantuan dan
bimbingan orang dewasa atau anak-anak yang terlatih. Menurut teori Vygotsky, Zona Perkembangan Proksimal
merupakan celah antara actual
development dan potensial
development, dimana antara apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu
tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu
dengan arahan orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya.
Batas bawah dari ZPD adalah tingkat keahlian yang dimiliki anak yang bekerja
secara mandiri. Batas atas adalah tingkat tanggung jawab tambahan yang dapat
diterima oleh anak dengan bantuan seorang instruktur. Maksud dari ZPD adalah menitikberatkan ZPD pada
interaksi sosial akan dapat memudahkan perkembangan anak.
b. Konsep
Scaffolding
Scaffolding
ialah perubahan tingkat dukungan. Scaffolding
adalah istilah terkait perkembangan kognitif yang digunakan Vygotsky untuk
mendeskripsikan perubahan dukungan selama sesi pembelajaran, dimana orang yang
lebih terampil mengubah bimbingan sesuai tingkat kemampuan anak.Dialog adalah
alat yang penting dalam ZPD. Vygotsky memandang anak-anak kaya konsep tetapi
tidak sistematis, acak, dan spontan. Dalam dialog, konsep-konsep tersebut dapat
dipertemukan dengan bimbingan yang sistematis, logis dan rasional.
c. Bahasa
dan Pemikiran
Menurut Vygotsky, anak menggunakan
pembicaraan bukan saja untuk komunikasi sosial, tetapi juga untuk membantu
mereka menyelesaikan tugas. Lebih jauh Vygotsky yakin bahwa anak pada usia dini
menggunakan bahasa unuk merencanakan, membimbing, dan memonitor perilaku
mereka. Vygotsky mengatakan bahwa bahasa dan pikiran pada awalnya berkembang
terpisah dan kemudian menyatu. Anak harus menggunakan bahasa untuk
berkomunikasi dengan orang lain sebelum mereka dapat memfokuskan ke dalam
pikiran-pikiran mereka sendiri. Anak juga harus berkomunikasi secara eksternal
dan menggunakan bahasa untuk jangka waktu yang lama sebelum mereka membuat
transisi dari kemampuan bicara ekternal menjadi internal.
3.
Teori
Pemprosesan Informasi.
Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang
menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari tak (Slavin, 2000: 175). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang
memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama.
Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat
memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
Komponen pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang
masuk adalah registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang.
masuk adalah registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang.
Keberadaan register penginderaan mempunyai dua implikasi penting dalam
pendidikan. Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila
informasi itu harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa
semua informasi yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran,
(Slavin, 2000: 176).
Interpretasi seseorang terhadap rangsangan dikatakan sebagai persepsi. Persepsi
dari stimulus tidak langsung seperti penerimaan stimulus, karena persepsi
dipengaruhi status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan, motivasi, dan
banyak faktor lain.
Informasi yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke
komponen kedua dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek. Memori jangka
pendek adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam
beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek
adalah memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali.
Guru mengalokasikan waktu untuk pengulangan selama mengajar.
Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan
informasi untuk periode panjang. Tulving (1993) dalam (Slavin, 2000: 181)
membagi memori jangka panjang menjadi tiga bagian, yaitu memori episodik, yaitu
bagian memori jangka panjang yang menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman
pribadi kita, memori semantik, yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang
yang menyimpan fakta dan pengetahuan umum, dan memori prosedural adalah memori
yang menyimpan informasi tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Evaluasi
terhadap teori-teori
Kontribusi
dari teori-teori kognitif sebagai berikut:
1.
Teori-teori kognitif menyajikan suatu pandangan yang
positif mengenai perkembangan, menekankan pada pemikiran yang disadari
2.
Teori-teori kognitif (khususnya teori piaget dan
vygotsky) menekankan pada usaha aktif individu untuk menyususn pemahamannya.
3.
Teori piaget dan vygotsky menekankan pentingnya kajian
terhadap perubahan perkembangan dalam pemikiran
4.
Teori pemrosesan-informasi seringkali memaparkan
deskripsi yang terperinci mengenai proses-proses kognitif.
Kritik-kritik mengenai teori-teori
kognitif :
1.
Perkembangan kognitif tidak berlangsung pada
tahapan-tahapan seperti dikemukankan dalam teori piaget
2.
Teori-teori kognitif tidak member perhatian yang
memadai terhadap variasi individual dalam perkembangan kognitif
3.
Teori pemrosesan informasi tidak menyediakan deskripsi
yang memadai mengenai perubahan perkembangan dalam kognisi
4.
Para ahli teori psikoanalisis mengatakan bahwa
teori-teori kognitif kurang member perhatian pada pemikiran yang tidak
disadari.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Prespektif dasar
dari psikoanalisis adalah bahwa tingkah laku orang dewasa merupakan refleksi
(penjelmaan) pengalaman masa kecilnya. Teori psikoanalisis memperkenalkan konsep ketidaksadaran sebagai
bagian kepribadian, dimana terletak keinginan-keinginan, impuls-impuls dan
konflik-konflik yang dapat mempunyai pengaruh langsung pada tingkah laku. Pada
dasarnya tingkah laku individu dipengaruhi atau dimotivasi oleh determinan
kesadaran maupun ketidak sadaran.
Jean Piaget dikenal dengan teori
perkembangan intelektual yang menyeluruh, yang mencerminkan adanya kekuatan
antara fungsi biologi & psikologis.
Bayi lahir dengan refleks bawaan, skema dimodifikasi dan digabungkan untuk
membentuk tingkah laku yang lebih kompleks. Pada masa kanak-kanak, anak belum
mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal
yang ditangkap dengan indranya. Anak telah dapat mengetahui simbol-simbol
matematis, tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak (tak berwujud).
Penekanan Vygotsky pada peran kebudayaan dan masyarakat di dalam
perkembangan kognitif lebih banyak menekankan peranan orang dewasa dan
anak-anak lain dalam memudahkan perkembangan si anak. Menurut Vygotsky,
anak-anak lahir dengan fungsi mental yang relatif dasar seperti kemampuan untuk
memahami dunia luar dan memusatkan perhatian. Namun, anak-anak tak banyak
memiliki fungsi mental yang lebih tinggi seperti ingatan, berfikir dan
menyelesaikan masalah. Pada intinya dapat
disimpulkan bahwa dalam teori Vygotsky mengandung banyak unsur psikologi pendidikan,
khususnya pokok bahasan pendidikan dan budaya.
Teori pemrosesan
informasi menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah
informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu
menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua
informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, abu dan munawar soleh. 2005.
psikologi perkembangan. Jakarta:
PT.Rineka Cipta
Danim, Sudarwan. 2010. Perkembangan
Peserta Didik. Bandung: Alfabeta
Syarif, kemali. 2013. perkembangan peserta didik. Medan:
Unimed press
King,
Laura A. 2010. Psikologi Umum Sebuah Pandangan Apresiatif. Jakarta:
Salemba Humanika.
sa137 fake bags ek001
BalasHapus