Jumat, 01 April 2016

Makalah Perkembangan Peserta Didik




               

BAB I

PENDAHULUAN

 

Dalam kehidupan ini dari waktu ke waktu peserta didik mengalami suatu perkembangan, baik dalam fisik atau psikologisnya. Dimana dalam kehidupan sehari-hari perkembangan fisik lebih dikenal dengan sebutan pertumbuhan, sedangkan pada yang lainnya (non fisik) dinamakan perkembangan psikologis.
Perkembangan peserta didik dapat diartikan sebagai perubahan-perubahan tertentu yang muncul pada diri peserta didik. Dimana dalam makalah ini sedikit banyak akan dibahas mengenai teori-teori perkembangan perkembanagan peserta didik tersebut. Sehingga dengan dibahasnya teori-teori tersebut dapat membantu orangtua atau guru dalam memahami tingkah laku dan mendidik anak-anaknya.
Sehingga ketika besok kita sudah menjadi guru atau orang tua tidak salah dalam mendidik atau menanggapi tingkah laku anak didik atau anak kita sendiri. Karena banyak kasus yang salah dalam pengambilan tindakan yang dilakukan guru atau orangtua terhadap anak didiknya atau anaknya sendiri. Yaitu salah dalam hal memahami keinginan atau tindakan “super” (anak berkebutuhan khusus) dari peserta didik atau anak kita sendiri.
Sehingga disuatu kesempatan kita tidak menghambat langkah dari anak-anak tersebut. Yaitu ketika anak sudah pintar berlari kita malah baru mengajarinya berjalan, dan ketika para anak-anak sudah dapat terbang kita sebagai guru atau orang tua malah baru mengajarinya berlari. Oleh sebab itu para peserta didik harus memahami perkembangan peserta didik sehingga dapat berusaha secara optimal untuk mengembangkan peserta didik mereka.

1.      Apakah yang dimaksud dengan teori psikoanalisis?
2.      Bagaimana teori psikoanalisis menurut Sigmund freud dan erik erikson?
3.      Apakah yang dimaksud dengan teori kognitif?
4.      Bagaimana teori kognitif menurut piaget, vygotsky dan teori pemrosesan informasi?
1.      Untuk mengetahui pengertian dari teori psikoanalisis
2.      Untuk mengetahui teori psikoanalisis menurut Sigmund freud dan erik erikson
3.      Untuk mengetahui pengertian teori kognitif
4.      Untuk mengetahuo teori kognitif menurut piaget, vygotsky dan teori pemrosesan informasi



















BAB II

PEMBAHASAN


Prespektif dasar dari psikoanalisis adalah bahwa tingkah laku orang dewasa merupakan refleksi (penjelmaan) pengalaman masa kecilnya. Teori psikoanalisis  memperkenalkan konsep ketidaksadaran sebagai bagian kepribadian, dimana terletak keinginan-keinginan, impuls-impuls dan konflik-konflik yang dapat mempunyai pengaruh langsung pada tingkah laku. Pada dasarnya tingkah laku individu dipengaruhi atau dimotivasi oleh determinan kesadaran maupun ketidak sadaran.
            Psikoanalisis yang pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud memang merupakan teori yang kontroversial. Selain itu, orientasinya juga sangat individual. Oleh sebab itu, tidak semua teorinya relevan dengan yang dibicarakan tentang teori-teori psikologi sosial.Tapi tidak dapat disangkal bahwa ada bagian-bagian dari teori Freud yang erat kaitannya dengan psikologi sosial, bisa menerangkan beberapa gejala psikologi sosial, bahkan disana sini ada beberapa pandangan Freud yang didasari pada hal-hal yang bersifat sosial budaya.
1.      TEORI FREUD
            Sigmund Freud adalah seorang psikolog yang berasal dari kota Wina, Austria. Teori psikoanalisis  adalah teori yang di kembangkan oleh Dr. Sigmund Freud sehingga lebih dikenal dengan nama Aliran Freud.  Psikonalisis merupakan suatu pandangan baru tentang manusia pada abad 20-an, dimana ketidaksadaran memainkan peranan sentral. Pandangan ini mempunyai relevansi praktis, karena dapat digunakan dalam mengobati pasien-pasien yang mengalami gangguan-gangguan psikis. Teori psikoanalisa lahir dari praktek dan tidak dari sebaliknya.
            Secara skematis Sigmund Freud mengambarkan jiwa sebagai Gunung Es dimana bagian yang muncul di permukaan air merupakan bagian terkecil yaitu puncak dari Gunung Es itu yang dalam hal kejiwaan adalah bagian kesadaran (conciousnes), agak di bawah permukaan adalah bagian pra kesadaran (sub conciousness) dan bagian terbesar terletak di dasar air yang dalam hal kejiwaan merupakan alam ketidaksadaran (unconciousness). Sehingga dapat dikatakan bahwa kehidupan mausia dikuasai oleh alam ketidaksadaran dan berbagai kelainan tingkat laku dapat disebabkan karena faktor-faktor yang terpendam dalam alam ketidaksadaran.
            Dalam psikoanalisa dikenal adanya tiga aspek yaitu psikoanalisa sebagai teori kepribadian, psikoanalisa sebagai teknik evaluasi kepribadian dan psikoanalisa sebagai teknik terapi (penyembuhan).
Struktur Kepribadian
            Menurut Freud kepribadian terdiri atas tiga sistem atau aspek yaitu:  id (aspek biologis), ego (aspek psikologis) dan superego (aspek sosiologis). Untuk mempelajari dan memahami sistem kepribadian manusia, Freud berusaha mengembangkan model kepribadian yang saling berhubungan dan menimbulkan ketegangan antara satu dengan yang lainnya. Konflik dasar ketiga sistem kepribadian tersebut dapat menciptakan energi psikis individu dan memiliki sistem kerja, sifat serta fungsi yang berbeda. Meskipun demikian antara satu dengan yang lainnya merupakan satu tim yang saling bekerja sama dalam mempengaruhi perilaku manusia.
1.      Id (Das Es) : aspek biologis
            Id merupakan lapisan psikis yang paling dasariah, kawasan eros dan thanos berkuasa. Dalam id terdapat naluri-naluri bawaan biologis (seksual dan agresif, tidak ada pertimbangan akal atau etika dan yang menjadi pertimbangan kesenangan) serta keinginan- keinginan yang direpresi. Hidup psikis janin sebelum lahir dan bayi yang baru dilahirkan terdiri dari id saja. Jadi id sebagai bawaan waktu lahir merupakan bahan dasar bagi pembentukan hidup psikis lebih lanjut.
            Sedangkan naluri id merupakan prinsip kehidupan yang asli atau pertama, yang oleh Freud dinamakan prinsip kesenangan, yang tujuannya adalah untuk membebaskan seseorang dari ketegangan atau mengurangi jumlah ketegangan sehinga menjadi lebih sedikit dan untuk menekannya sehingga sedapat mungkin menjadi tetap. Ketegangan dirasakan sebagai penderitaan atau kegerahan sedangkan pertolongan dari ketegangan dirasakan sebagai kesenangan.
            Id tidak diperintahkan oleh hukum akal atau logika dan tidak memiliki nilai etika ataupun akhlak. Id hanya didorong oleh satu pertimbangan yaitu mencapai kepuasan bagi keinginan nalurinya, sesuai dengan prinsip kesenangan.
Menurut Freud ada dua cara yang dilakukan oleh id dalam memenuhi kebutuhannya untuk meredakan ketegangan yang timbul yaitu melalui reflek seperti berkedip dan melalui proses primer seperti membayangkan makanan pada saat lapar. Sudah pasti dengan membayangkan saja kebutuhan kita tidak akan terpenuhi melainkan hanya membantu meredekan ketegangan dalam diri kita. Agar tidak terjadi konflek maka dari itu diperlukan sistem lain yang dapat merealisasikan imajinasi itu menjadi kenyataan sistem tersebut adalah ego.
2.      Ego (Das Ich)  : aspek psikologis
            Ego adalah sistem kepribadian yang didominasi kesadaran yang terbentuk sebagai pengaruh individu kepada dunia obyek dari kenyataan dan menjalankan fungsinya berdasarkan pada prinsip kenyataan berarti apa yang ada. Jadi ego terbentuk pada struktur kepribadian individu sebagai hasil kontak dengan dunia luar. Adapun proses yang dimiliki dan dijalankan ego sehubungan dengan upaya menawarkan dengan kebutuhan atau mengurangi ketegangan.
            Ego merupakan pelaksanaan dari kepribadian, yang mengontrol dan memerintahkan id dan superego serta memelihara hubungan dengan dunia luar untuk kepentingan seluruh kepribadian yang keperluannya luas. Jika ego melakukan faal pelaksanaannya dengan bijaksana akan terdapat keharmonisan dan keselarasan. Kalau ego mengarah atau menyerahkan kekususannya terlalu banyak kepada id, kepada superego ataupun kepada dunia luar akan terjadi kejanggalan dan kesadarannya pun tidak teratur.
            Selain itu ego juga merupakan hasil dari tindakan saling mempengaruhi lingkungan garis perkembangan idividu yang ditetapkan oleh keturunan dan dibimbing oleh proses-proses pertumbuhan yang wajar. Ini berarti bahwa setiap orang memiliki potensi pembawaan untuk berpikir dan menggunakan akalnya. Sehingga dapat dikatakan bahwaa kebanyakaan ego bekerja di bidang kesadaran, terkadang juga pada alam ketidaksadaran dan melindungi individu dari gangguan kecemasan yang disebabkan oleh tuntutan id dan superego.
3.      Superego (Das Ueber Ich) : aspek sosiologis
            Superego merupakan sistem kepribadian yang berisi nilai-nilai moral bersifat evaluatif (memberikanbatasan baik dan buruk). Menurut Freud superego merupakan internalisasi idividu tentang nilai masyarakat, karena pada bagian ini terdapat nilai moral yang memberiakan batasan baik dan buruk.  Dengan kata lain superego dianggap pula sebagai moral kepribadian. Adapun fungsi pokok dari superego jika dilihat dari hubungan dengan ketiga aspek kepribadian adalah merintangi impuls-impuls ego terutama impuls-impuls seksual dan agresif yang pernyataannya sangat ditentang oleh masyarakat dan mendorong ego untuk lebih mengejar hal-hal yang moralistis daripada yang realistis serta mengejar kesempurnaan yang diserap individu dari lingkungannya.
            Sedangkan dalam superego yang bersifat ideal, Freud membaginya kedalam dua kumpulan yaitu suara hati (cansience) dan ego ideal. Kata hati didapat melalui hukuman oleh orang tua, sedangkan ego ideal dipelajari melalui penggunaan penghargaan.
            Superego dapat obyektif dan lingkungan proses rohaniah yang lebih tinggi maka superego dapat dianggap sebagai hasil sosialisasi dengan adat tradisi kebudayaan. Superego dalam peranannya sebagai penguasa dari dalam dirinya kemudian mengambil tindakan serangan terhadap ego. Setiap kali ego mengandung pikiran untuk memusuhi atau membrontak terhadap seorang yang berkuasa di luar. Oleh karena itu ego merupakan agen dari penghidupan superego dengan jalan berusaha untuk menghancurkan ego mempunyai tujuan yang sama dengan keinginan mati yang semula dalam id. Itulah sebabnya maka superego dikatakan menjadi agen dari naluri-naluri kematian.
            Sigmund Freud secara sistematis membagi tingkat perkembangan seseorang didalam beberapa fase. Tingkat perkembangan ini erat sekali hubungannya dengan perkembangan kehidupan seksual dan karenanya disebut sebagai psychosexsual development. 




Fase-fase tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Fase infantile (0,0 – 5,0 th)
·         Fase oral (0 –1 th).
            Fase oral merupakan fase yang paling awal pada perkembangan psikoseksual seseorang karena seorang bayi sejak lahir alat yang paling penting memberi kenikmatan dalam hidupnya adalah mulutnya sendiri. Hal ini disebabkan karena melalui mulutnya ia dapat berhubungan dengan alat tubuh yang dapat memberi kenikmatan yaitu payudara ibu.
            Apabila sumber kenikmatan yang pokok tidak terpenuhi, maka bayi akan mencari kepuasan dengan mengisap jempol atau benda lainnya. Bayi akan menelannya apabila yang ada dalam mulut menyenangkan dan akan menyemburkan apabila yang ada dalam mulutnya bila dia rasakan tidak menyenangkan.
            Minat mulut untuk memenuhi kepuasan ini tidak akan pernah lenyap walaupun si anak telah tumbuh menjadi orang dewasa. Menurut Freud hal ini dapat dilihat pada banyak orang dewasa yang gemar menghisap rokok dan berciuman. Kesulitan yang dialami oleh bayi pada fase oral akan megakibatkan energi libidinal terpusat pada fase ini dan individu akan kekurangan energi untuk mengatasi kesulitan- kesulitan yang mucul pada fase-fase berikutnya.
·         Fase anal (1 – 3 th).
            Fase ini fokus dari energi libidinal dialihkan dari mulut kedaerah dubur serta kesenangan atau kepuasan diperoleh dalam kaitannya dengan tindakan mempermainkan atau menahan faeces.
            Mulai dari fase ini, anak akan mendapat pengalaman untuk yang pertama tentang pengaturan impuls-impulsnya dari luar. Anak harus belajar menunda kenikmatan yang timbul dari defekasi (bebaskan diri). Sedangkan pengaruh yang akan diterima anak dalam pembiasaan akan kebersihan ini dapat mempunyai pengaruh yang besar pada sifat-sifat kepribadian anak dikemudian hari. Apabila sang ibu besikap keras dan menahan anak mungkin juga menahan faecesnya. Jika reaksi ini meluas kelain-lain hal maka anak dapat mempunyai sikap kurang bebas, kurang berani, tertekan dan lain-lain.
            Tetapi beda jika ibu bersikap membimbing dengan penuh kasih sayang dan memuji apabila anak devekasi maka anak mungkin memperoleh pengertian bahwa memproduksi faeces merupakan aktifitas penting. Pengertian ini akan menjadi dasar daripada kreaitifitas dan produksifitas. Hal yang terpenting pada fase ini adalah anak memperoleh rasa memiliki kekuatan, kemandirian dan otonomi. Jika orang tua berbuat terlalu banyak bagi anaknya ini berarti bahwa si orang tua mengajari anaknya itu untuk tidak memiliki kesanggupan menjalankan fungsi diri. Jadi pada fase anal ini anak perlu bereksperimen, berbuat salah atau merasa bahwa mereka tetap diterima untuk kesalahannya itu dan menyadari diri sebagai individu yang terpisah dan mandiri.
·         Fase falik (3-5 th).
            Pada fase falik ini yang menjadi pusat perhatian adalah perkembangan seksual dan rasa agresi serta fungsi, alat-alat kelamin. Kenikmatan masturbasi mengalami peningkatan serta khayalan yang menyertai aktifitas otoerotik sangat penting. Anak menjadi lebih ingin tahu tentang tubuhnya. Mereka berhasrat untuk mengeksplorasi tubuh sendiri dan menemukan perbedaan- perbedaan diantara kedua jenis kelamin.
            Fase falik merupakan periode perkembangan hati nurani, suatu masa ketika anak belajar mengenal standar moral dan bahaya yang kritis adalah indoktrinasi standar-standar moral yang kaku dan realistis dari orang tua yang bisa mengarah pada pengendalian superego secara berlebihan sehingga mematuhi moral tetapi hanya karena takut. Efek efek lainnya adalah konflik-konflik yang kuat, perasaan bedosa, penuh sesal rendahnya rasa harga diri dan penghukuman diri.
            Pada fase falik ini ada kompleks oedipus dan electra complex. Kompleks Oedipus merupakan keinginan anak laki-laki yang terarah pada ibunya sendiri. Sedagkan permusuhan dilontarkan pada ayah yang dianggap sebagai saingannya. Electra complex ini kebalikan dari kompleks Oedipus, jadi electra complex ini pada anak perempuan.
2.      Fase latensi (5,0 – 12 th)
            Fase latensi disebut juga periode teduh. Suatu periode yang cukup panjang yang berlangsung sampai masa pubertas. Sepanjang periode ini aktifitas libidinal berkurang dan kita dapat mengamati suatu deseksualitas dalam pergaulan dengan orang lain dan dalam hidup emosional si anak. Dari sini mulai terbentuk rasa malu dan aspirasi- aspirasi moral serta estetis. Rupanya perkembangan psikoseksual dari tahun pertama sama sekali dilupakan seolah-olah ada aktifitas seksual. Fase ini biasanya pada anak usia tujuh, delapan tahun sampai ia menginjak remaja.
3.      Fase pubertas (12 – 18 th)
            Dalam fase ini dorongan-dorongan mulai muncul kembali, apabila dorongan-dorongan ini dapat ditransfer dan disublimasikan dengan baik, maka anak akan sampai pada masa kematangan terakhir yaitu: fase genital.
4.       Fase genital
            Fase ini dimulai pada masa remaja, dimana segala kepuasan terpusat pada alat kelamin. Karakter genital mengiktisarkan tipe ideal dari kepribadian yakni terdapat pada orang yang mampu mengembangkan retasi seksual yang matang dan bertanggung jawab serta mampu memperoleh kepuasan dari percintaan heteroseksual. Untuk memperoleh karakter genital ini individu haruslah terbebas dari ketidakpuasan dan hambatan pada anak-anak. Pengalaman-pengalamn traumatik dimasa anak-anak atau mengalami fiksasi libido maka penyesuaian selama fase genital akan sulit.
            Secara teoritis setiap orang harus melewati fase-fase tersebut dalam perkembangan psikoseksualnya. Apabila terjadi gangguan pada salah satu fase maka akan terjadi ketidakpuasan yang dapat menyebabkan terjadinya neurose pada orang tersebut dikemudian hari setelah ia dewasa. Dengan demikian maka untuk menilai kepribadian seorang penderita neurose dan mecari faktor-faktor penyebab neurose itu perlu diteliti segala peristiwa yang pernah terjadi selama tingkat-tingkat perkembangan psikoseksual, yang terdiri dari beberapa fase tersebut.







            Eric Erikson mengembangkan teori psikososial sebagai pengembangan teori psikoanalisis dari Freud. Di dalam teori psikososial disebutkan bahwa tahap perkembangan individu selama siklus hidupnya, dibentuk oleh pengaruh sosial yang berinteraksi dengan individu yang menjadi matang secara fisik dan psikologis.
            Secara umum inti dari teorinya adalah :
1.      Perkembangan emosional sejajar dengan pertumbuhan fisik.
2.      Adanya interaksi antara pertumbuhan fisik dan perkembangan psikologis.
3.      Adanya keteraturan yang sama antara pertumbuhan fisik dan perkembangan psikologis.
4.      Dalam menuju kedewasaan, perkembangan psikologis, biologis, dan sosial akan menyatu.
5.      Pada setiap saat anak adalah gabungan dari organisme, ego, dan makhluk sosial.
6.      Perkembangan manusia dari sejak lahir hingga akhir hayat dibagi dalam 8 fase, dengan tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan pada setiap fase.
            Teori perkembangan yang dikemukakan Erik Erikson merupakan salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Erik erikson menyimpulkan bahwa perkembangan anak itu mengalami delapan tahap dan setiap tahapnya menawarkan potensi kemajuan dan potensi kemunduran ( Human Development;1978). 
            Teori Erikson dikatakan juga sebagai salah satu teori yang sangat selektif karena didasarkan pada tiga alasan. Alasan yang pertama, karena teorinya sangat representatif dikarenakan memiliki kaitan atau hubungan dengan ego yang merupakan salah satu aspek yang mendekati kepribadian manusia. Kedua, menekankan pada pentingnya perubahan yang terjadi pada setiap tahap perkembangan dalam lingkaran kehidupan, dan yang ketiga/terakhir adalah menggambarkan secara eksplisit mengenai usahanya dalam mengabungkan pengertian klinik dengan sosial dan latar belakang yang dapat memberikan kekuatan/kemajuan dalam perkembangan kepribadian didalam sebuah lingkungan.
      Melalui teorinya Erikson memberikan sesuatu yang baru dalam mempelajari mengenai perilaku manusia dan merupakan suatu pemikiran yang sangat maju guna memahami persoalan/masalah psikologi yang dihadapi oleh manusia pada jaman modern seperti ini. Oleh karena itu, teori Erikson banyak digunakan untuk menjelaskan kasus atau hasil penelitian yang terkait dengan tahap perkembangan, baik anak, dewasa, maupun lansia.
     Delapan tahap/fase perkembangan menurut Erikson memiliki ciri utama setiap tahapnya adalah di satu pihak bersifat biologis dan di lain pihak bersifat sosial, yang berjalan melalui krisis diantara dua polaritas. Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini :
1.     Trust vs Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan)
            Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust-mistrust. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing, tempat asing, suara asing, perlakuan asing dan sebagainya. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis.
2.      Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu
            Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy-shame, doubt. Pada masa ini sampai batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan, bermain, minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi di pihak lain dia telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.
3.      Inisiatif vs Kesalahan
            Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative-guilty. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat.

4.      Kerajinan vs Inferioritas
            Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry-inferiority. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.
5.      Identitas vs Kekacauan Identitas
            Tahap kelima merupakan tahap adolesen (remaja), yang dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity-Identity Confusion. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitasdiri ini, pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak, sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota.
6.      Keintiman vs Isolasi
            Tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka setiap individu akan memasuki jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 tahun. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy-isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. Mereka sudah mulai selektif, dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya.
7.      Generativitas vs Stagnasi
            Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity-stagnation. Sesuai dengan namanya masa dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal– hal tertentu ia mengalami hambatan.
8.      Integritas vs Keputusasaan
            Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang diduduki oleh orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity-despair. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya.
Evaluasi terhadap teori-teori psikoanalisis
            Kontribusi dan teori-teori psikoanalisis meliputinpenekanannya pada faktor-faktor sebagai berikut.
1.      Pengalaman masa awal memainkan peranan penting bagi perkembangan
2.      Relasi keluarga merupakan salah satu aspek pokok dari perkembangan
3.      Kepribadian dapat di pahami secara lebih baik apabila kepribadian juga di telaah dari sisi perkembangannya
4.      Pikiran tidak sepenuhnya disadari; aspek-aspek yang tidak disadari dari pikiran perlu dipertimbangkan
5.      Dalam teori erikson perubahan dapat berlangsung dimasa dewasa maupun di masa kanak-kanak.
Kritik terhadap teori psikoanalisis
1.      Konsep-konsep utama dari teori-teori psikoanalisis sulit diuji secara ilmiah
2.      Banyak data yang digunakan untuk mendukung teori-teori psikoanalisis, berasal dari rekonstruksi individu terhadap masa lalunya seringkali jauh dimasa di lalu yang akurasinya tidak diketahui
3.      Terlalu banyak menekankan pentingnya peranan seksualitas terhadap perkembangan (khususnya teori freud)
4.      Terlalu banyak menekankan pentingnya pengaruh pikiran yang tidak disadari terhadap perkembangan
5.      Teori-teori psikoanalisis memberikan suatu gambaran mengenai manusia yang terlalu negatif (khususnya dalam teori freud)

Kognitif adalah salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikan sebagai potensi intelektual yang terdiri dari tahapan: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal).
Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif berbeda dengan teori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada dirinya.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata kognitif. Dari aspek tenaga pendidik misalnya. Seorang dosen diharuskan memiliki kompetensi bidang kognitif. Artinya dosen tersebut harus memiliki kemampuan intelektual, seperti penguasaan materi perkuliahan, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan cara menilai mahasiswa dan sebagainya.

1.      TEORI PIAGET
Jean Piaget (1896-1980), pakar psikologi dari Swiss, mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu, yaitu pengorganisasian dan penyesuaian (adaptasi). Kecenderungan organisasi dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk mengintegasi proses-proses sendiri menjadi sistem-sistem yang koheren. Adaptasi dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk memyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan sosial.
Menurut Piaget, perkembangan kognitif mempunyai empat aspek, yaitu: 1) kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan syaraf; 2) pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara orgnisme dengan dunianya; 3) interaksi sosial, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial, dan 4) ekuilibrasi, yaitu adanya kemampuan atau sistem mengatur dalam diri organisme agar dia selalu mampu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
Piaget membagi perkembangan kognitif anak ke dalam 4 periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
a.       Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
            Bagi anak yang berada pada tahap ini, pengalaman diperoleh melalui fisik (gerakan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indra). Pada mulanya pengalaman itu bersatu dengan dirinya, ini berarti bahwa suatu objek itu ada bila ada pada penglihatannya. Perkembangan selanjutnya ia mulai berusaha untuk mencari objek yang asalnya terlihat kemudian menghiang dari pandangannya, asal perpindahanya terlihat. Akhir dari tahap ini ia mulai mencari objek yang hilang bila benda tersebut tidak terlihat perpindahannya. Objek mulai terpisah dari dirinya dan bersamaan dengan itu konsep objek dalam struktur kognitifnya pun mulai dikatakan matang. Ia mulai mampu untuk melambungkan objek fisik ke dalam symbol-simbol, misalnya mulai bisa berbicara meniru suara kendaraan, suara binatang, dll.


b.      Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
            Tahap ini adalah tahap persiapan untuk pengorganisasian operasi konkrit. Pada tahap ini pemikiran anak lebih banyak berdasarkan pada pengalaman konkrit daripada pemikiran logis, sehingga jika ia melihat objek-ojek yang kelihatannya berbeda, maka ia mengatakanya berbeda pula. Pada tahap ini anak masih berada pada tahap pra operasional belum memahami konsep kekekalan (conservation), yaitu kekekalan panjang, kekekalan materi, luas, dll. Selain dari itu, cirri-ciri anak pada tahap ini belum memahami dan belum dapat memikirkan dua aspek atau lebih secara bersamaan.
c.       Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
            pada umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda benda konkrit. Kemampuan ini terwujud dalam memahami konsep kekekalan, kemampuan untuk mengklasifikasikan dan serasi, mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang berbeda secara objektif. Anak pada tahap ini sudah cukup matang untuk menggunakan pemikiran logika, tetapi hanya objek fisik yang ada saat ini (karena itu disebut tahap operasional konkrit). Namun, tanpa objek fisik di hadapan mereka, anak-anak pada tahap ini masih mengalami kesulitan besar dalam menyelesaikan tugas-tugas logika.
d.      Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
            Anak pada tahap ini sudah mampu melakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang abstrak dan menggunakan logika. Penggunaan benda-benda konkret tidak diperlukan lagi. Anak mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan dengan objek atau peristiwa berlangsung. Penalaran terjadi dalam struktur kognitifnya telah mampu hanya dengan menggunakan simbol-simbol, ide-ide, astraksi dan generalisasi. Ia telah memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan operasi-operasi yang menyatakan hubungan di antara hubungan-hubungan, memahami konsep promosi.






2.      TEORI VYTGOTSKY
Lev Vygotsky (1896-1934) menekankan bagaimana proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran melibatkan pembelajaran menggunakan temuan-temuan masyarakat seperti bahasa, sistem matematika, dan alat-alat ingatan. Ia juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut. Penekanan Vygotsky pada peran kebudayaan dan masyarakat di dalam perkembangan kognitif berbeda dengan gambaran Piaget tentang anak sebagai ilmuwan kecil yang kesepian. Menurut Vygotsky, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang relatif dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan perhatian. Namun, anak-anak tak banyak memiliki fungsi mental yang lebih tinggi seperti ingatan, berfikir dan menyelesaikan masalah.
Seperti Piaget, Vygotsky menekankan bahwa anak-anak secara aktif menyusun pengetahuan mereka. Akan tetapi menurut Vygotsky, fungsi-fungsi mental memiliki koneksi-koneksi sosial. Vygotsky berpendapat bahwa anak-anak mengembangkan konsep-konsep lebih sistematis, logis, dan rasional sebagai akibat dari percakapan dengan seorang penolong yang ahli.
a.       Konsep Zona Perkembangan Proksimal (ZPD)
Zona Perkembangan Proksimal adalah istilah Vygotsky untuk rangkaian tugas yang terlalu sulit dikuasai anak seorang diri tetapi dapat diipelajari dengan bantuan dan bimbingan orang dewasa atau anak-anak yang terlatih. Menurut teori Vygotsky, Zona Perkembangan Proksimal merupakan celah antara actual development dan potensial development, dimana antara apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya. Batas bawah dari ZPD adalah tingkat keahlian yang dimiliki anak yang bekerja secara mandiri. Batas atas adalah tingkat tanggung jawab tambahan yang dapat diterima oleh anak dengan bantuan seorang instruktur. Maksud dari ZPD adalah menitikberatkan ZPD pada interaksi sosial akan dapat memudahkan perkembangan anak.


b.      Konsep Scaffolding
Scaffolding ialah perubahan tingkat dukungan. Scaffolding adalah istilah terkait perkembangan kognitif yang digunakan Vygotsky untuk mendeskripsikan perubahan dukungan selama sesi pembelajaran, dimana orang yang lebih terampil mengubah bimbingan sesuai tingkat kemampuan anak.Dialog adalah alat yang penting dalam ZPD. Vygotsky memandang anak-anak kaya konsep tetapi tidak sistematis, acak, dan spontan. Dalam dialog, konsep-konsep tersebut dapat dipertemukan dengan bimbingan yang sistematis, logis dan rasional.
c.       Bahasa dan Pemikiran
Menurut Vygotsky, anak menggunakan pembicaraan bukan saja untuk komunikasi sosial, tetapi juga untuk membantu mereka menyelesaikan tugas. Lebih jauh Vygotsky yakin bahwa anak pada usia dini menggunakan bahasa unuk merencanakan, membimbing, dan memonitor perilaku mereka. Vygotsky mengatakan bahwa bahasa dan pikiran pada awalnya berkembang terpisah dan kemudian menyatu. Anak harus menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain sebelum mereka dapat memfokuskan ke dalam pikiran-pikiran mereka sendiri. Anak juga harus berkomunikasi secara eksternal dan menggunakan bahasa untuk jangka waktu yang lama sebelum mereka membuat transisi dari kemampuan bicara ekternal menjadi internal.
3.      Teori Pemprosesan Informasi.
      Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari tak (Slavin, 2000: 175). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
       Komponen pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang
masuk adalah registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang.
       Keberadaan register penginderaan mempunyai dua implikasi penting dalam pendidikan. Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran, (Slavin, 2000: 176).
       Interpretasi seseorang terhadap rangsangan dikatakan sebagai persepsi. Persepsi dari stimulus tidak langsung seperti penerimaan stimulus, karena persepsi dipengaruhi status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan, motivasi, dan banyak faktor lain.
       Informasi yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Guru mengalokasikan waktu untuk pengulangan selama mengajar.
       Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode panjang. Tulving (1993) dalam (Slavin, 2000: 181) membagi memori jangka panjang menjadi tiga bagian, yaitu memori episodik, yaitu bagian memori jangka panjang yang menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman pribadi kita, memori semantik, yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan fakta dan pengetahuan umum, dan memori prosedural adalah memori yang menyimpan informasi tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Evaluasi terhadap teori-teori
            Kontribusi dari teori-teori kognitif sebagai berikut:
1.      Teori-teori kognitif menyajikan suatu pandangan yang positif mengenai perkembangan, menekankan pada pemikiran yang disadari
2.      Teori-teori kognitif (khususnya teori piaget dan vygotsky) menekankan pada usaha aktif individu untuk menyususn pemahamannya.
3.      Teori piaget dan vygotsky menekankan pentingnya kajian terhadap perubahan perkembangan dalam pemikiran
4.      Teori pemrosesan-informasi seringkali memaparkan deskripsi yang terperinci mengenai proses-proses kognitif.
Kritik-kritik mengenai teori-teori kognitif :
1.      Perkembangan kognitif tidak berlangsung pada tahapan-tahapan seperti dikemukankan dalam teori piaget
2.      Teori-teori kognitif tidak member perhatian yang memadai terhadap variasi individual dalam perkembangan kognitif
3.      Teori pemrosesan informasi tidak menyediakan deskripsi yang memadai mengenai perubahan perkembangan dalam kognisi
4.      Para ahli teori psikoanalisis mengatakan bahwa teori-teori kognitif kurang member perhatian pada pemikiran yang tidak disadari.


















BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Prespektif dasar dari psikoanalisis adalah bahwa tingkah laku orang dewasa merupakan refleksi (penjelmaan) pengalaman masa kecilnya. Teori psikoanalisis  memperkenalkan konsep ketidaksadaran sebagai bagian kepribadian, dimana terletak keinginan-keinginan, impuls-impuls dan konflik-konflik yang dapat mempunyai pengaruh langsung pada tingkah laku. Pada dasarnya tingkah laku individu dipengaruhi atau dimotivasi oleh determinan kesadaran maupun ketidak sadaran.       
Jean Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual yang menyeluruh, yang mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi & psikologis. Bayi lahir dengan refleks bawaan, skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang lebih kompleks. Pada masa kanak-kanak, anak belum mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan indranya. Anak telah dapat mengetahui simbol-simbol matematis, tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak (tak berwujud).
Penekanan Vygotsky pada peran kebudayaan dan masyarakat di dalam perkembangan kognitif lebih banyak menekankan peranan orang dewasa dan anak-anak lain dalam memudahkan perkembangan si anak. Menurut Vygotsky, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang relatif dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan perhatian. Namun, anak-anak tak banyak memiliki fungsi mental yang lebih tinggi seperti ingatan, berfikir dan menyelesaikan masalah. Pada intinya dapat disimpulkan bahwa dalam teori Vygotsky mengandung banyak unsur psikologi pendidikan, khususnya pokok bahasan pendidikan dan budaya.
Teori pemrosesan informasi menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
                       

DAFTAR PUSTAKA



Ahmadi, abu dan munawar soleh. 2005. psikologi perkembangan. Jakarta: PT.Rineka Cipta
Danim, Sudarwan. 2010.  Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Alfabeta
Syarif, kemali. 2013. perkembangan peserta didik. Medan: Unimed press
King, Laura A. 2010. Psikologi Umum Sebuah Pandangan Apresiatif. Jakarta: Salemba Humanika.












1 komentar: